MENGOPTIMALKAN MULTIPLE INTELLIGENCE PADA ANAK

MENGOPTIMALKAN MULTIPLE INTELLIGENCE PADA ANAK

PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN UNTUK MENGOPTIMALKAN MULTIPLE INTELLIGENCE PADA ANAK AUTISME

Prinsip pendidikan pada anak dengan autisme bukanlah menjadikan anak tersebut sebaik mungkin atau senormal mungkin dimata masyarakat, atau agar tidak dianggap sebagai anak dengan banyak ”kekurangan”. Tapi paradigma tersebut haruslah diubah agar pendidikan untuk anak autisme dapat berguna untuk masa depannya dengan mengoptimalkan kemampuan-kemampuan serta potensi-potensi yang mereka miliki dengan mengikuti “jalur” yang mereka miliki tapi bukan tanpa suatu tujuan. Misalnya dengan potensi dan kemampuan yang siswa tersebut perlihatkan dengan ketertarikannya untuk melakukan rutinitas menyiram dan sedikit menggosok motor seorang pengajar ketika waktu istirahat, maka pengajar dapat melatih anak tersebut untuk dapat melakukan cuci motor dengan baik dengan tujuan nantinya anak tersebut dapat memanfaatkan kemampuannya tersebut untuk menolong dirinya sendiri dimasa depan.

Gardner (dalam Amstrong, 1993) menyatakan ada banyak cara untuk menjadi cerdas dan ada banyak cara juga untuk belajar. Setiap orang mempunyai tujuh kecerdasan dan mempunyai kemampuan untuk mengembangkan setiap kecerdasan hingga tingkat kemahiran tertentu. Jangan menitik beratkan perhatian hanya pada salah satu kecerdasan saja. Tidak beda yang terjadi pada anak autisme. Mereka juga memiliki kesemuanya itu. Perkembangan anak autisme juga terus menerus berjalan dan tidak berhenti hanya sampai pada satu titik saja. Tapi yang sedikit berbeda pada mereka adalah mereka butuh untuk dituntun, diberi contoh step by step untuk melakukannya, sedangkan kita sebagai orang normal, seiring dengan waktu kita bisa mengenali dan melakukan itu dengan sendirinya, tidak harus dengan bantuan orang lain.

Jika kita tilik beberapa ciri-ciri kecerdasan berganda pada anak autisme yang telah dikemukakan sebelumnya, seakan-akan ada beberapa ciri-ciri kecerdasan berganda yang terdapat pada anak autisme lebih bersifat negatif untuk masyarakat disekitar kita, seperti cenderung senang membaui benda-benda atau makanan-makanan, senang atau mampu meniru perkataan orang lain, dan sebagainya. Tapi kita sebagai seseorang yang mengetahui tentang dunia psikologi pada umumnya ataupun sebagai seseorang yang mengerti dunia anak dengan autisme, baik bagi kita yang terjun langsung kelapangan maupun yang hanya mengetahui secara teoritis saja, yang dapat kita lakukan bukanlah atau tidak hanya “membenarkan” apa-apa yang tidak benar bagi sebagian masyarakat kita tentang potensi yang dimiliki anak autisme. Yang dapat kita lakukan adalah bagaimana kita memikirkan, mengarahkan dan mengajarkan kecerdasan tersebut agar nantinya dapat berguna atau bermanfaat seoptimal mungkin bagi anak tersebut bahkan bagi banyak orang disekitarnya, dengan tidak melupakan prinsip pengajaran dan pendidikan bagi anak autisme, yaitu: terstruktur, terpola, terprogram, konsisten, dan kontinyu. Selain itu untuk dapat mengajarkan anak autisme butuh suatu komitmen dan kesabaran serta keikhlasan yang tinggi, karena untuk mengajarkan sesuatu pada anak autisme butuh waktu yang lebih dari pada anak normal biasa dan dilakukan dengan cara step by step yang merupakan salah satu usaha kita untuk memahami cara berpikir dan berbuat mereka. Mengajarkan anak autisme memang sangat melelahkan tapi dapat menjadi sangat memuaskan.

Baca Juga :