Ide Kreatif Wirausahawan Muda di FIKSI 2017

Ide Kreatif Wirausahawan Muda di FIKSI 2017

Ide Kreatif Wirausahawan Muda di FIKSI 2017

Kemendikbud — Para finalis Festival Inovasi Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) 2017

mempersentasikan ide-ide kreatif yang mereka miliki di depan para juri sesuai bidangnya masing-masing. Ide yang segar dan orisinil dari ke-75 rencana bisnis kerap membuat juri kagum.

Koordinator juri Bidang Lain, Widji Purwanta mengatakan ada begitu banyak ide kreatif yang menarik pada FIKSI tahun ini. “Makanya, di sini ada katagori Bidang Lain. Ini adalah bidang yang tidak bisa masuk ke bidang apapun, sehingga sebenarnya bidang ini lebih luas dari bidang bidang lainnya karena menampung semua ide dan gagasan yang tidak bisa masuk di bidang apapun,” jelasnya pada acara pembukaan FIKSI 2017 di Bandung (12/9/2017).

Setelah kegiatan ini diharapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

(Kemendikbud) dapat menyediakan media lanjutan lebih sering lagi, seperti mengadakan semacam seminar atau workshop, meneliti, dan meriset ulang gagasan-gagasan yang sekiranya punya potensi untuk dikembangkan. Selain itu, bisa dengan melibatkan atau membuat permohonan izin ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk meneliti kandungan-kandungan yang ada di dalam produk yang dilombakan, apakah aman atau tidak.

Perlu dipikirkan pula, kemungkinan untuk mengundang para investor

yang berada di bursa efek Indonesia agar melirik hasil penelitian ini. Seperti contohnya produk pupuk yang berasal dari salak busuk, yang diutamakan pemakainannya untuk tanaman hias. Ide-ide seperti inilah yang dibutuhkan oleh banyak perusahaan, karena terkadang perusahaan juga kehabisan ide untuk produk baru mereka yang disebabkan oleh berbagai faktor.

Widji juga menambahkan bahwa banyak sekali sebenarnya ide-ide yang dapat dikembangkan. Oleh sebab itu perlu mengundang para investor yang berada di pasar modal atau otoritas keuangan. “Mereka harus dipertemukan dan kemudian disesuaikan antara gagasan mereka dengan para investor sehingga bukan berakhir sebagai ajang saja atau hilang setelah FIKSI berakhir. Tetapi harus ada kelanjutan, agar gagasan anak anak itu bisa direalisasikan,” tuturnya. (Iman/Irma/Hono/Febri)

 

Sumber :

https://merkterbaik.com/