500.000 Guru bakal Ikut Pelatihan Berbasis Zonasi

500.000 Guru bakal Ikut Pelatihan Berbasis Zonasi

500.000 Guru bakal Ikut Pelatihan Berbasis Zonasi

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) tengah berupaya meningkatkan kompetensi

pembelajaran di kelas. Saalh satunya dengan memberikan pelatihan berbasis zonasi. Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud Supriano, memprediksi, setidaknya 500.000 guru akan mengikuti pelatihan berbasis zonasi. Pelatihan tersebut akan lebih fokus pada permasalahan atau kelemahan berdasarkan capaian hasil ujian nasional (UN) yang dianalisis per zona.

Saat ini terdapat sebanyak 2.580 zona di seluruh Indonesia. Artinya, jika dalam satu Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) ada 10 guru, maka akan terdapat sekitar 25.800 guru yang mendapatkan pelatihan.

“Itu baru satu mata pelajaran, masih ada pelajaran lain. Kami perkirakan setidaknya 500.000 guru

akan mendapatkan pelatihan ini. Ini lebih efisien dan efektif dibandingkan harus mendatangkan para guru itu ke Jakarta,” kata Supriano saat membuka acara “Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi” di Hotel Mercure Ancol, Jakarta, Selasa (13/8) petang.

Kemdikbud juga akan memberikan insentif sebesar Rp 3 juta untuk masing-masing MGMP. Pelatihannya diselenggarakan setidaknya 85 jam.

Sejumlah daerah sudah memulai pelatihan guru berbasiskan zona tersebut. Salah satunya adalah Kota Malang,

Jawa Timur. Pelatihan tersebut, kata Supriano, tidak hanya sekali tetapi berkali-kali.

Ia optimistis bahwa pelatihan guru berbasiskan zona akan lebih efektif dari sebelumnya.

“Jadi nanti guru mata pelajaran akan mengikuti pelatihan melalui MGMP. Dalam forum ini mereka akan saling berbagi pengetahuan dan juga pengalaman. Sehingga lebih efektif,” ujar Supriano.

Dalam forum MGMP itu, nantinya para guru saling berbagi pengalaman dan juga mencari cara bagaimana menyelesaikan persoalan di dalam pembelajaran. Menurut Supriano, setiap guru memiliki persoalan yang berbeda-beda.

Pelatihan guru tersebut tidak hanya didominasi di dalam kelas, namun praktik langsung mengajar. Oleh karena itu, jika ada kekurangan dalam mengajar bisa diperbaiki.

 

Baca Juga :